Showing posts with label global. Show all posts
Showing posts with label global. Show all posts
Polisi London memukuli Babar Ahmad dan menghina agamanya (Islam) saat melakukan penggerebekan ke rumahnya di selatan London pada Desember 2003. Polisi menggerebek rumah Ahmad dengan mengatasnamakan anti-terorisme.

Fakta ini terungkap dalam persidangan di pengadilan Southwark Crown, Rabu (4/5/2011). Pengadilan menuding empat polisi dari London’s Territorial Support Group (TSG) telah melakukan kekerasan terhadap Ahmad saat melakukan penangkapan.

Jaksa penuntut Jonathan Laidlaw mengungkapkan, sebelum melakukan penggerebekan, keempat anggota polisi itu diberitahu bahwa Ahmad menerima pelatihan terorisme dan melakukan jihad ke sejumlah negara. Nyatanya Ahmad tidak pernah dikenakan dakwaan. Ia ditahan untuk menunggu ekstradisi ke AS dengan tuduhan terkait aktivitas terorisme. Ahmad memang seorang muslim AS yang berprofesi sebagai ahli komputer.

Lebih lanjut Laidlaw mengatakan, polisi mengaku khawatir Ahmad melawan saat ditangkap di rumahnya, tapi kenyataannya, Ahmad tidak melakukan perlawanan. “Dengan hanya menggunakan piyama dan kaki telanjang, Ahmad mengangkat tangan setinggi kepalanya, untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan melawan atau akan membahayakan, atau akan mengancam petugas,” kata Laidlaw di persidangan.

Tapi polisi tetap melayangkan tinjunya pada Ahmad, hingga ia terpental ke kaca jendela kamarnya hingga pecah berantakan. Sambil berteriak dan memaki, polisi menonjok dan memukuli Ahmad yang sudah terjatuh ke lantai.

Polisi lalu memborgol tangan Ahmad dan membawanya ke ruang tempat salat di lantai bawah rumahnya. Ahmad kemudian diposisikan seperti orang salat dan empat petugas polisi itu lalu mengejek Ahmad dengan mengatakan “Dimana Tuhanmu sekarang?”

Pukulan dan ejekan terhadap Ahmad terus berlangsung selama perjalanan ke kantor polisi, hingga tubuh Ahmad lebam-lebam. Sesampainya di kantor polisi, ungkap Laidlaw, polisi yang memukuli Ahmad mengatakan bahwa Ahmad mencoba melawan saat ditangkap.

“Apa yang dikatakan keempat polisi itu tentang kejadian hari itu, bohong semuanya,” tandas Laidlaw.

Sementara itu, Babar Ahmad menyatakan banding atas keputusan hakim pengadilan bahwa dirinya akan diekstradisi ke AS.

Sebegitu takutnya pemerintahan AS pada Islam, bahkan seorang ahli computer pun dikaitkan dengan “terorisme”. Adanya aturan tentang praduga tak bersalah dalam hukum penangkapan, rasanya hanya sebuah lelucon yang dibesar-besarkan.

Faktanya sudah berapa banyak penangkapan “tidak jelas” pada kaum muslimin di Negara sekuler yang mengatas namakan “terorisme” ternyata salah tangkap, meskipun “para tahanan” itu telah babak belur dijadikan wadah penampung amarah kaum kafir yang ketakutan.

Semoga kaum muslimin selalu diberi kekuatan dan kesabaran dalam “menggenggam bara” ini. (rasularasy/arrahmah.com)

TEL AVIV (Arrahmah.com) - Sebuah foto iklan terbaru mobil Jepang di Israel telah mengundang kemarahan yang cukup kuat untuk iklan yang menyiratkan pesan untuk menabrak anak-anak Palestina di jalan.

Iklan komersial yang diterbitkan oleh dealer Subaru di Israel, memperlihatkan adegan gambar yang terjadi pada tahun lalu dimana pemukim Yahudi menyerang dua anak Palestina dengan mobilnya di lingkungan Al-Quds Timur (Yerusalem), Silwan sebelum akhirnya pergi menjauh, lapor Xinhua pada Kamis (21/4/2011).

"Kita akan melihat siapa yang dapat bertahan terhadap Anda," ujar tulisan Ibrani yang berada di sebelah kanan foto.

Insiden pada Oktober tahun lalu menargetkan remaja Palestina berusia 10 dan 12 tahun yang mengalami patah kaki setelah ditabrak oleh mobil milik penduduk Yahudi.

Setelah serangan, korban menolak untuk dibawa masuk ke dalam mobil yang tampaknya dimaksudkan untuk "membawa mereka ke rumah sakit". Anak-anak itu takut mengalami peristiwa yang sama yang menimpa teman-temannya di mana mereka melihat teman-teman mereka dibawa pergi oleh pasukan Israel yang menyamar sebagai warga sipil.

Presiden boneka Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas dari partai Fatah mengatakan promosi tersebut merupakan tindakan agresi, "iklan itu kotor dan propaganda yang dapat mencapai status seruan untuk membunuh anak-anak

Penyerang bernama David Be'eri, direktur jenderal Elad, sebuah developer kawasan elit garis keras.

Organisasai tersebut mendorong ekstrimis Yahudi untuk pindah ke lingkungan padat penduduk di Al Quds timur. (haninmazaya/arrahmah.com)

Serbuan produk Cina ke Indonesia

Posted by Fursan Allail On 23:22 | No comments

JAKARTA (Arrahmah.com) - Makin hari, Sutopo, juragan seni ukir dari Desa Senenan, Jepara, Jawa Tengah, makin sulit mencari kader perajin. Padahal, boleh dikata, keunggulan mebel Jepara dibanding mebel dari negara lain di pasar internasional hanyalah ukirannya.

Ukiran Jepara yang terkenal itu adalah buah kerja tangan-tangan terampil warga setempat, yang mencungkil dan memahat kayu. Desainnya juga dari kreativitas perajin Jepara.

Namun, ketika pekan lalu Kompas menyambangi Desa Senenan, sebuah pertanyaan menyeruak hadir, sampai kapan seni ukir Desa Senenan bertahan?

Sebenarnya di Jepara, ada yang berpendapat seni ukir yang mulai dikenal sejak era Majapahit ini, tak mungkin dilibas karena hanya orang Jepara yang bisa mengukir. Tapi benarkah?

Sebuah pameran di Cina, beberapa bulan silam menampilkan mesin ukir yang boleh jadi akan menggetarkan perajin ukir Jepara. Mesin tersebut, mulai bisa mengukir meski tak menggores kayu terlampau dalam, lantas mengamplas media kayu. Kerja menjadi lebih efisien dan hemat biaya pegawai.

Seharusnya perajin Jepara mulai deg-degan. Kemajuan teknologi nyaris mustahil dikendalikan. Bagaimana nasib ribuan perajin dari Jepara, Bali, dan Asmat, bila sebuah pabrik di Cina dapat memproduksi patung atau relief dalam waktu sehari-semalam?

Jangan pula mencibir tekstil ”batik” Cina yang diproduksi massal oleh mesin batik cetak! Bila hari ini mesin itu baru mencetak ”batik” murahan, bagaimana bila nantinya mampu merekayasa kain baru jadi kain lawasan?

Simak pula kedashyatan mebel ”rotan plastik” Cina yang menggempur mebel rotan Cirebon. Dengan bahan plastik, Cina memproduksi mebel yang kuat, mudah dibersihkan, tetapi tetap mirip rotan.

Akhirnya, malah industri rotan di Cirebon yang ikut-ikutan membuat mebel rotan dari plastik. Mengingkari keunggulan daya saing dengan berlimpahnya rotan alam Kalimantan dan Sulawesi.

Soal teknologi, jujur saja kita kalah. Jangankan cuma mesin tekstil, tiap bulan, Cina merakit dua unit pesawat Airbus A320. Jadi, waspadai produk ”canggih” dari revolusi permesinan di Cina, yang tinggal menghitung hari!

Sayangnya, belum banyak yang dikerjakan untuk memenangi pertempuran di era liberalisasi ini. Infrastruktur kita, misalnya, masih buruk.

Lantas, ketika mungkin tinggal desain dan kreativitaslah yang nanti dijual, ternyata kita gagap menjaganya.

Di Cina, hanya butuh 20 hari untuk mendapat sertifikat hak kekayaan intelektual, sedangkan di Indonesia butuh 18 bulan. Bayangkan itu! Tak mengherankan, suatu ketika ukiran khas Jepara, yakni yuyu (kepiting), dipermasalahkan Cina karena dianggap menjiplak. (komp/arrahmah.com)

Aku Ingin Bernama Ayyash

Posted by Fursan Allail On 20:02 | 1 comment

Penulis: Gusrianto

Pertengahan November, 2008

Aku ingin bernama Ayyash, lengkapnya Yahya Ayyash. Keren bukan? Kata orang, Ayyash adalah seorang warga Palestina yang sangat pemberani. Dia adalah tokoh pejuang Hamas yang telah banyak membunuh tentara Israel dengan tangannya sendiri. Ayyash adalah seorang pemuda yang mencintai agama dan Tuhannya.. Ayyash adalah pemuda saleh yang mati terbunuh oleh agen suruhan Mossad. Teman-temannya mengatakan kalau Ayyash syahid, dan surga adalah balasannya. Aku membaca semua itu dari buku-buku dan klipingan koran yang dikumpulkan papa di ruang kerjanya. Aku ingin, setelah besar nanti aku bisa seperti Yahya Ayyash, aku ingin mati syahid dan mendapatkan ganjaran surga, makanya aku ingin bernama Ayyash, semoga keberaniannya bisa tertular padaku.

Oh ya, namaku Thomas, umurku baru 10 tahun. Aku adalah anak tunggal Mama dan Papa. Papaku seorang tentara, pimpinan pula. Kami tinggal di sebuah apartemen mewah di tengah-tengah kota. Akhir-akhir ini, Papaku sangat sibuk sekali. Kata Mama, Papa sedang mempersiapkan perang. Perang? Ah, aku sangat tidak suka dengan kata itu. Tidak ada perang yang tidak meneteskan darah. Tidak ada perang yang tidak merenggut nyawa.

Pagi ini, aku berangkat sekolah seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Hampir semua topik pembicaraan teman-temanku dan juga guru adalah kebencian terhadap rakyat Palestina, sama seperti bencinya papa terhadap mereka.

“Bom bunuh diri, benar-benar perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan.”

“Itu hanyalah pekerjaan teroris.”

“Semoga mereka bisa secepatnya di tumpas.”

Kata-kata itu, hampir setiap hari kudengar. Tidak hanya di ruang kelas. Seluruh siaran televisi juga menyiratkan kebencian itu. Sorakan membahana akan terdengar serentak saat pembaca berita mengatakan sebuah rudal tentara Israel berhasil memporak porandakan sebuah kamp pengungsian rakyat Palestina. Sebaliknya, makian dan hujatan akan terlontar saat pembaca berita mengatakan bahwa seorang pemuda palestina meledakkan dirinya di sebuah restoran tempat para tentara Israel melepaskan lelahnya.

Dari semua anak-anak di sekolah, mungkin hanya aku yang tidak ikut menghujat-hujat para pemuda Palestina itu. Saat semua orang bersorak ketika mendapat kabar sebuah rudal tentara Israel berhasil memporak-porandakan sebuah kamp pengungsian rakyat Palestina, aku malah berlari bersembunyi, bahkan hingga ke kamar mandi. Di sana aku berdoa, Ya Tuhan, selamatkan mereka, selamatkan mereka dari kekejaman tentara-tentara suruhan papaku.

Lain lagi ketika orang-orang memaki dan menghujat Palestina ketika seorang pemudanya meledakkan diri di sebuah restoran tempat para tentara Israel melepaskan lelahnya, aku kembali lari bersembunyi, bahkan hingga ke kamar mandi. Di sana aku tersenyum sembari mengucap syukur, Ya Tuhan, terima kasih kau telah membantu mereka.

Aku sangat kagum saat mendapat cerita kalau seorang bocah Palestina berhasil melukai tentara Israel dengan lemparan batu di tangannya. Bocah Palestina? Batu? Aku yakin dia seumuran dengan ku. Begitu beraninya dia. Melawan todongan senapan tentara Israel hanya dengan lemparan batu. Hal itulah yang membuatku kagum dengan mereka. Darimana datangnya keberanian itu? Pasti ada tangan-tangan tidak kelihatan yang menggerakkannya

Aku tak kalah kagumnya saat mendapat cerita seorang pemuda meledakkan dirinya bersama bahan peledak yang melilit hampir di sekujur tubuhnya di tengah gerombolan tentara Israel. Begitu beraninya. Hal itulah yang membuatku kagum dengan mereka.

***

Akhir November 2008

Dari keterangan mama, akhirnya aku tahu juga, dalam waktu satu atau dua minggu ke depan, papa akan megerahkan anak buahnya untuk memporakporandakan Palestina. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Suatu hari, diam-diam aku masuk ke dalam bagasi mobil papa. Aku dengar pembicaraannya dengan mama semalam. Dia akan ke kota Gaza, ada pertemuan dengan beberapa tokoh terkemuka Palestina. Inilah saatnya, batinku. Lalu sebelum Papa dan mama bangun, diam-diam aku menyelinap ke dalam bagasi mobil papa. Sambil tak hentinya berdoa, Ya Tuhan, izinkan aku bertemu mereka, walau tidak bisa bermain dan bersahabat dengan mereka, izinkan aku melihat bocah-bocah pemberani itu dari dekat, tak perlu banyak, satu saja diantara mereka bisa kujadikan kawan, maka aku akan sangat senang.

Aku meringkuk kepanasan di dalam bagasi mobil papa. Aku sudah siap menerima apapun resiko yang akan terjadi seandainya papa tahu apa yang telah kulakukan.

Tapi semua berjalan sesuai rencana. Aku yakin. Tuhan telah menolongku.

Tidak ada yang melihat ketika bagasi mobil papa kudorong dari dalam mobil. Dengan gerakan yang sangat cekatan aku segera melompat ke luar. Lalu menyelinap di antara mobil-mobil yang diparkir. Aku berjalan menjauhi gedung pertemuan tempat papa tengah bermusyawarah dengan beberapa orang pimpinan Palestina.

***

Entah sudah berapa lama aku berjalan, dan sekarang aku entah berada di mana. Matahari sudah condong ke barat saat aku tiba di pinggir sungai Yordan. Di atas batu-batu kerikil kecil di pinggir sungai, aku melihat seseorang (usianya mungkin sama denganku) sedang beribadah. Aku tahu, dia sedang shalat. Aku duduk di balik sebuah batu besar berjarak sekitar 30-an meter darinya. Beberapa saat kemudian, kulihat seorang anak berusia jauh lebih muda datang berlari menghampiri anak yang sedang shalat itu.

“Ahmad, ada apa? Seperti dikejar tentara Israel saja.” Kulihat dada anak yang dipanggil Ahmad turun naik, nafasnya memburu.

“Benar, Bang. Tadi Ahmad melihat tentara Israel memasuki desa. Dua mobil besar. Ahmad takut, makanya Ahmad menyusul Bang Hamid ke sini.” Tergesa-gesa Ahmad memberikan laporan. Aku sangat terkejut mendengar penuturan Ahmad. Tentara Israel ke sini? Apakah mencariku? Mengapa secepat itu mereka mengetahui kalau aku berada di sini? Aku sangat yakin sekali sudah berjalan sangat jauh. Bahkan bekal makanan dan minuman yang tadi pagi memenuhi tasku sudah tidak tesisa lagi.

“Apa yang mereka cari di sini?” kata anak yang tadi shalat. “Mari kita pulang.”

“Tapi, Bang…” Ahmad tampak khawatir.

“Ahmad, seorang mujahid tidak boleh takut. Hanya murka Allah yang pantas ditakuti.”

Sebelum kedua anak itu pergi, aku segera keluar dari persembunyian dan berteriak memanggil mereka.

“Tunggu!” kataku sambil berlari menghampiri.

Mereka tampak terkejut. Lalu menatapku tanpa berkedip.

“Tentara itu pasti mencariku, tapi kumohon, tolong bantu aku, sembunyikan aku agar mereka tidak menemukanku.”

Kedua kakak beradik hanya saling pandang, kebingungan.

***

Awal Desember 2008

“Ayo gempur….! Habiskan zionis itu!” Omar berteriak-teriak sambil memberi semangat anak buahnya. “Palestina milik kita, usir mereka yang seenaknya saja menganggap ini tanah nenek moyang mereka! Ayo gempur, lemparkan batu-batu di tanganmu, ini tanah leluhur kita, tanah nenek moyang kita, tanahnya para Rasul dan para Anbiya…!” dan terdengarlah suara dor…dor…dor dari mulut bocah itu.

“Syech Ahmad,” tak lama kemudian seorang anak menghadap Omar yang dari tadi hanya duduk di atas sebuah batu besar –sambil memberi perintah-, “Kita menang, Zionis menyerah.” Lanjutnya.

Lalu terdengarlah sorakan menggema. “Hidup Palestina, hidup Syech Ahmad…” beberapa orang teman Omar mengangkat-angkat Omar.

Saat itulah tanpa mereka sadari dua orang tentara Israel lewat melintasi lapangan. Mereka masih berteriak-teriak memuji Hamas dan memaki-maki tentara zionis, dan baru terdiam ketika kedua tentara itu benar-benar telah dekat.

Anak-anak itu saling pandang. Ada yang mundur sedikit demi sedikit, ada yang malah menatap tajam tanpa takut, sedang Omar sendiri langsung memegang ketapel –alat pelontar batu- yang dikalungkan di lehernya.

“O…jadi kamu pimpinannya? Kamu Achmad Yasin ya?” ejek salah seorang tentara.

“Ya!” Omar menjawab mantap. Kedua tentara itu saling pandang dan kemudian mengangguk, seolah sudah biasa melakukan percakapan hanya lewat mata.

“Baiklah, kami antarkan keinginanmu menjadi si tua yang pincang itu, agar setelah ini kursi roda yang jadi teman setiamu.” Lalu salah seorang menarik sebuah pistol dari pinggangnya dan -tanpa basa-basi- langsung menembakkan ke lutut Omar, lalu seperti tidak terjadi apa-apa, mereka berlalu.

Darah mengalir deras dari kaki Omar. Sebelum pandangannya benar-benar gelap, Omar masih sempat meneriakkan kata ‘serang’ pada teman-temannya. Mereka langsung tanggap. Masing-masing meraih alat pelontar batu di leher masing-masing. Lalu terdengarlah jeritan kedua tentara Israel tadi. Lontaran dan lemparan batu itu segera mereka balas dengan berondongan peluru-peluru panas. Akibatnya belasan anak itu roboh, hanya tiga orang yang selamat, termasuk Omar yang pingsan karena banyak mengeluarkan darah.

Aku menyaksikan semua itu dari dalam sebuah gubuk kecil tidak jauh dari sana. Sudah satu minggu aku tinggal bersama Hamid dan Ahmad, mereka yatim piatu. Orangtua mereka tewas di bantai tentara Israel, kedua abang mereka juga mengalami nasib yang sama.

Sejak awal aku memang sudah bertekad akan menerima perlakuan apapun yang akan mereka berikan padaku. Keinginanku hanya ingin melihat bocak Palestina dari dekat, dan itu sudah terkabul saat pertama kali bertemua Hamid dan Ahmad. Aku sudah siap untuk dibunuh, karena aku adalah anak seorang jenderal pembunuh. Tapi ternyata tidak. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik.

Hamid dan Ahmad tinggal di sebuah desa kecil di pinggi sungai Yordan, sekitar 40 km dari pusat Gaza. Saat pertemuan dulu, masih dalam kebingungan, akhirnya mereka mengajakku ke dalam kampung, dan mengantarkan pada rumah seseorang yang aku yakin adalah orang yang disegani di kampung itu. Mereka menanyakan siapa aku.

Tanpa sungkan aku langsung bercerita, bahwa aku adalah seorang anak tentara Israel, papaku adalah pimpinan satu batalyon tentara. Aku katakan bahwa aku lari dari rumah untuk berkenalan dengan anak-anak Palestina yang pemberani. Aku juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan ada serangan dari tentara Israel. Dan terakhir, aku mengatakan kalau aku ingin bernama Ayyash, aku ingin bisa berani seperti Ayyash. Aku mencintai sosok Ayyash, dan sangat membenci tentara Israel.

Akhirnya mereka menerimaku. Mengizinkanku tinggal bersama Ahmad. Mengizinkanku bermain perang-perangan bersama anak Palestina, walau aku lebih sering di suruh bersembunyi, takut ada yang melihat.

Berita kehilanganku sudah tersebar kemana-mana. Fotoku terpampang dengan jelas di koran-koran, pemberitaan di radio juga sangat sering mengabarkan tentang diriku. Tapi aku sudah bertekad untuk tidak pulang, aku bahagia berada bersama orang-orang Palestina.

***

Minggu ke dua Desember 2008

Masih terlalu pagi saat aku turun dari mobil yang mengantarku ke perbatasan antara Palestina dan Israel. Hamid dan Ahmad memelukku lama.

“Ayyash, apakah kita akan bertemu lagi?” begitu kata Hamid saat memelukku.

Aku hanya tersenyum, “Pasti” jawabku kemudian, lalu dalam hati aku melanjutkan, kalau tidak di dunia, insyaallah di surga.

Aku turun dari mobil. Lalu menyuruh mereka yang mengantarku untuk segera pergi. Bisa bahaya kalau ada tentara Israel yang sedang patroli. Sementara itu, aku segera mengendap-endap memasuki daerah perbatasan.

“Tolong…tolong… kataku sambil berlari begitu melihat dua orang tentara Israel yang tengah mondar-mandir dekat pintu gerbang perbatasan.

Mereka langsung menyorotkan bola senter yang sangat terang ke arahku.

“Bukankah itu Thomas?” kata salah seorang sebelum akhirnya aku jatuh ke tanah. Pingsan? Tidak. Aku hanya pura-pura. Aku sangat malas melayani rentetan pertanyaan yang pasti mereka ajukan. Aku hanya ingin secepatnya mereka mengantarku pulang ke rumah. Aku rindu susu hangat buatan mama.

“Thomas…” mama langsung memelukku begitu keesokan harinya aku membuka mata. Aku yakin sekarang aku sudah berada dalam kamarku. “Thomas, apa yang terjadi?”

Aku tersenyum dan menceritakan semuanya. Bahwa aku diculik oleh dua orang anak buah papa yang sangat membenci papa, lalu aku disiksa dan menjualnya dengan harga sangat mahal kepada warga Palestina untuk dijadikan sandera, tapi orang Palestina malah sangat menyayangiku. Setelah merawatku dan menyembuhkan semua luka-lukaku, aku kembali di antar pulang. Aku mengakhiri ceritaku dengan senyuman. Ketika papa menanyakan siapa kedua orang anak buahnya itu, aku dengan fasih segera menyebutkan nama mereka.

“Tapi mereka pasti hanya suruhan, Pa, pasti ada yang menyuruh, rekan papa yang iri sama Papa.”

Tak lama setelah itu aku mendengar kabar kematian kedua anak buah papa itu. Aku tersenyum. Beginikah rasanya menjadi Ayyash? kebahagiaan selalu menyelimuti. Tak ada keraguan dalam menghadapi apapun.

***

“Sampai kapan papa akan terus berperang?” kataku keesokan hari pada papa.

“Perang ini akan segera berakhir, sayang?” Papa mejawab sambil memelukku.

“Tapi kapan? Sampai seluruh anak-anak Palestina itu mati terbunuh?” Papa memandangku dengan tajam. Mungkin tidak suka dengan apa yang kubicarakan.

“Tentu saja sampai kita menang. Sampai Al Aqsa rata dengan tanah, dan di atas puing-puing Al Aqsa kita akan membangun Al Haikal, tempat peribadatan ummat Yahudi. Dan itu akan terkabul dalam waktu tidak lama lagi.”

Setelah berkata begitu, Papa meninggalkanku, ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Setelah papa menghilang, aku segera memasuki ruang kerja papa. Membongkar semua laci-laci, lalu tanpa membaca, aku memasukkan beberapa buah surat dan dokumen yang mungkin saja berharga ke dalam sebuah koper kecil milik papa. Aku memadati koper-koper itu dengan kertas-kertas dari dalam laci meja kerja papa. Lalu kemudian meninggalkan ruangan itu dan buru-buru masuk ke kamarku. Malam ini, seperti yang telah kujanjikan dengan Hamid dan beberapa orang lainnya, aku akan memberikan koper-koper berisi dokumen-dokumen itu, semoga saja ada beberapa yang berharga. Malam ini, aku akan meninggalkan mama dan papa untuk selamanya, aku akan bergabung dengan bocah-bocah pemberani itu, sampai Ayyash datang menjemputku.

***

Tidak sampai lima belas menit aku menunggu saat kulihat dari kejauhan sebuah cahaya berkedip berulang-ulang kali dalam interval 5 detik. Aku segera menuju ke arah cahaya itu. Hampir dua minggu aku dan Hamid tidak bertemu. Masih banyak hal yang harus kupelajari darinya.

Aku sampai di sumber cahaya yang berkedip itu. Tiba-tiba lampu mobil menyala terang menerpaku. Mataku silau, berani sekali mereka menghidupkan lampu mobil, apakah tidak takut akan ketahuan?

Pertanyaanku terjawab saat satu sosok melangkah ke hadapanku. Papa!

“Thomas, apa yang kau lakukan malam-malam begini?” suara papa terdengar lain, sangat tidak bersahabat. Aku yakin, dia sudah mengetahui semuanya. Aku tidak perlu basa-basi lagi.

“Dimana mereka?” kataku.

Lalu sesosok tubuh bersimbah darah dilemparkan kehadapanku. Aku langsung mengenali tubuh tak bernyawa itu. Hamid.

“Sekarang impas, dua nyawa anak buah papa yang melayang karena ulahmu telah tergantikan dengan tujuh nyawa para sahabatmu.” Lalu tubuh-tubuh lain dilemparkan begitu saja dari atas mobil, jatuh menimpa tubuh Hamid. “Sekarang Thomas, cepat serahkan koper itu.”

Aku tersenyum.

“Papa, aku bukan Thomas, namaku Ayyash, lengkapnya Yahya Ayyash.” Lalu aku menarik sesuatu dari balik bajuku dan dengan cekatan menyambungkan kabel merah dan kabel biru yang melilit di badanku. Tak sampai waktu satu minggu bagi Hamid mengajarkan ini padaku dulu hingga aku benar-benar mahir. Di angkasa yang gelap, aku melihat satu sosok lelaki berpakaian serba putih tersenyum padaku, pasti itu adalah Ayyash yang datang menjemputku.

Payakumbuh, Februari 2009

Mengenang Yahya Ayyash

Menguak Misteri Hizbullah

Posted by Fursan Allail On 19:07 | No comments

Pertengahan Juni 2006 lalu, Palestina dibombardir teroris israel. Penjajah zionis melakukan itu dengan dalih mencari seorang tentaranya yang ditahan di wilayah palestina. Saat itu, palestina yang kini dikendalikan hamas harus berjuang sendiri. Perdana menteri palestina, ismail haniyyah, dengan nada getir berkata,’ kemanakah dunia? Kemanakah PBB? Mengapa dunia tak mengutuk kekejaman israel?
Dalam tempo sebulan agresi israel, tepatnya 18 juli 2006, lebih dari 85 nyawa warga sipil telah melayang. Ratusan lainnya terluka. Puluhan rumah hancur. Lembaga pendidikan seperti universitas islam gaza juga jadi sasaran israel. Lebih gila lagi, delapan menteri hamas dan 25 anggota parlemen palestina diculik dan ditahan.
Tanggal 12 juli 2006, tiba- tiba hizbullah tampil menjawab kegetiran haniyyah. Milisi yang berpusat di selatan lebanon ini menyerang konvoi tentara israel. Delapan serdadu zionis terbunuh dan dua lagi ditawan.
Mulanya israel bereaksi dengan mengajak hizbullah bertukar tawanan. Dua tentara israel bernama ehud goldwasser dan eldad regev ditukar dengan beberapa warga lebanon, suriah dan arab yang sekarang berada di penjara israel.
Tanpa diduga hizbullah menolak tawaran agresor israel itu.
Israel pun melancarkan agresi ke lebanon, dan dalam waktu yang sama tetap pula membombardir gaza dan tepi barat. Tentara zionis bahkan terlibat perang terbuka dengan pejuang hizbullah, yang sungguh diluar dugaan israel, begitu sulit ditaklukkan.
Kawasan selatan lebanon hancur lebur akibat bom- bom pesawat tempur israel. Sampai saat itu, sekitar 1000 warga sipil lebanon tewas, ratusan luka- luka dan ribuan orang mengungsi.
Israel yang didukung penuh oleh amerika serikat tampak kepayahan. Ratusan tentaranya tewas, sementara milisi hizbullah yang gugur tak seberapa jumlahnya. Tawaran gencatan senjata dari PBB pun diterimanya, meski penjajah ini tak terus melakukan serangan.
Warga dunia terperangah dengan kehebatan hizbullah. Keberhasilannya memukul israel mematahkan mitos bahwa israel begitu hebat dan tak mungkin terkalahkan oleh negeri- negeri timur tengah. Tak heran bila warga lebanon yang pulang dari kamp- kamp pengungsian mengelu- elukan hizbullah dan pimpinannya, sayyed hasan nasrallah

Embrio hizbullah
Dalam bahasa arab, hizbullah berarti partai allah. Hizbullah adalah partai politik di lebanon yang mewakili komunitas syi’ah. Syi’ah sendiri bermakna “mereka yang menyatakan bahwa Ali Bin Abi thalib lebih utama daripada seluruh sahabat dan lebih berhak memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin. Demikian pula anak cucu sepeninggalnya .“ < al fishal fil milali wal ahwa wan nihal, 2/113, karya ibnu hazm >
Celakanya banyak pengikut syi’ah yang mencela sahabat- sahabat selain ali radiallahuanhua. Karena sikap inilah, imam hambali sampai pernah berkata,” aku tidak melihat dia (orang yang mencela abu bakar. Umar dan aisyah) itu orang islam.”
Warga kelas dua
Lebanon adalah negara arab yang unik. Rakyatnya terdiri atas berbagai latar belakang agama. Mulai dari kristen dengan segala kkelompok gerejanya seperti maronit yang dominan, ortodoks dan katolik, hingga muslim sunni, syiah dan druze. Paling tidak ada 18 kelompok agama di lebanon.
Kemajemukan ini membuat pemerintah lebanon harus membangun sebuah sistem yang bisa menyatukan berbagai kelompok. Sayangnya bukan keharmonisan yang dicapai oleh sstem tersebut, malah lebih banyak memihak kaum kristen manorit.
Kaum kristen manorit merasa menjadi tuan rumah di lebanon. Padahal jumlah mereka pada awalnya kurang dari 30 %. Jumlah dominan kala itu justru muslim sunni. Namun kelompok kristian maronjtes memiliki pengaruh yang lebih besar daripada sunni.
Pada awal abad ke 20, kaum syiah masih menjadi golongan paling minoritas dan lemah. Mereka paling terbelakang dalam hal ekonomi, sosial dan ilmu pengetahuan. Kaum syiah menjadi warga negara kelas dua, paling tidak sampai tahun 1960 an.
Pada saat itu israel telah gencar melakukan agresi. Dalam peristiwa perang enam hari (5- 10 juni 1967), israel berhasil mengubah peta timur tengah dengabn mengambil gurun sinai dan jalur gaza dari mesir, dataran tinggi golan dari suriah, serta tepi barat dan yerusalem timur dari yordania.
Dalam perang yom kippur (6 – 24 oktober 1973), pasukan israel berhasil melaju hingga 32km dari damaskus (suriah) dan 65km dari kairo (mesir). Lebanon pun tak ketinggalan mendapat ancaman agresi dari israel.
Pesona musa sadr
Pada tahun 1970 an, seorang ulama syiah najaf yang semula tinggal di iran bernama musa sadr pindah ke lebanon. Musa sadr yang merupakan murid khomeini- pemimpin spiritual iran- kemudian mendirikan sebuah orgainsasi untuk kaum syiah lebanon bernama afwaj al muqowimah al lubnaniyah (amal).
Daya tarik sadr telah memikat para pemuda syiah untuk bangkit dan memperbaiki kehidupan mereka. Padahal kaum muda syiah sebelumnya kebanyakan lebih tertarik dengan paham kiri (sosialis). Sadr meniupkan di hati para pemuda itu apa yang ia sebut “Jihad Karbala.”
Pada tahun 1975, terjadi perang saudara di lebanon. Sadr langsung membangun sayap militer amal. Karisma sadr menarik kaum muda syiah berbondong- bondong mendaftarkan diri. Sikap pemberontakan terhadap dominasi kristen maronites pada pemerintahan lebanon terus dipupuk.
Namun pada tahun 1978, saat berkunjung ke tripoli (libya), sadr diculik dan hilang entah kemana. Ia tak diketemukan hingga hari ini.
Hilangnya sadr mebuat para pengikutnya marah besar. Semangat berjuang demi syiah kian menjadi- jadi. Keinginan untuk revolusi terus diembuskan.
Namun tiadanya sadr membawa perubahan dalam tubuh amal. Disatu sisi organisasi ini semakin berkembang. Pengikutnya semakin banyak. Namun disi lain orientasinya mulai bergeser. Mereka telah menceburkan diri kedalam kancah politik. Apalagi setelah amal dipimpin oleh seorang profesional muda syiah, nabih berri. Amal kian menjelma menjadi perkumpulan nasionalis yang memprjuangkan nasib pengikut syiah sbagai rakyat lebanon. Bukan lagi membangun sebuah negara seperti iran sebagaimana cita- cita sadr. Banyak pemuda pro iran yang tak puas dengan sikap berri.
Pada tahun 1982, israel melancarkan operasi peace in galilee atas lebanon dan berhasil menduduki bagian selatan negara itu. Presiden amerika serikat kala itu, ronald reagen, berupaya menengahi krisis antara israel lebanon dan suriah. Israel yang merasa rugi besar akibat agresinya itu terpaksa menyetujui usulan AS untuk melkukan gencatan senjata dengan lebanon.
Dilakukanlah kesepakatan philip habib, diambil dari nama orang yang ditunjuk sebagai penengah dalam kesepakatan ini. Pihak lebanon diwakili oleh perkumpulan penyelamat nasional yang terdiri atas lima wakil kelompok di lebanon. Berri salah satu diantaranya.
Salah satu bunyi kesepakatan tersebut adalah mengusir para pejuang PLO dari lebanon. Tentu saja kesepakatan ini melukai parasaan mayoritas umat islam di lebanon. Bahkan presiden lebanon saat itu, racheed karami, tak mau melaksnakan kesepakatan tersebut.
Presiden lebanon sebelumnya, ilyas sirkis, menilai kesepakatan itu adalah pengkhianatan terdap perjuangan rakyat palestina dan perjuangan menetang penjajahan zionis. Keputusan tersebut juga dianggap bertentangan dengan aspirasi rakyat lebanon yang ingin menghalau tentara zionis dari negara mereka.
Hal ini semakin menambah perasaan tak senangnya kaum muda syiah terhadap berri. Lalu, hussain musawi, orang nomor dua di tubuh amal, membuat penolakan terbuka atas sikap berri.
Iran mencoba menjadi penengah atas pecahnya amal. Namun berri tak mau tunduk kepada keputusan iran yang dianggapnya terlalu memihak musawi. Akhirnya musawi dan kalangan muda syiah yang berada di baalbak, lembah bika, beramai- ramai keluar dari amal.
Pada 12 juli 1982, musawi dkk mendirikan apa yang disebut amal al islamiyyah. Tujuan dari kelompok ini adalah mengembalikan ajaran khomeini dan sadr dalam tubuh pengikut syiah lebanon. Inilah cikal bakal terbentuknya hizbullah.

Bumi Cinta

Posted by Fursan Allail On 22:13 | 7 comments

Dan novel yang ditunggu-tunggu para penggemar karya Habiburrahman El Shirazy atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kang Abik ini pun terbit juga. Novel yang bertajuk Bumi Cinta ini masih merupakan novel dengan kisah romansa relijius yang tetap mengusung predikat sebagai novel pembangun jiwa, sebagaimana novel-novel Kang Abik sebelumnya yaitu Ayat-Ayat Cinta , Ketika Cinta Bertasbih Full (KCB), Dalam Mihrab Cinta Full dan masih banyak lagi . Bahkan baik Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih FullKCB keduanya telah dilayarlebarkan. Namun tidak seperti novel sebelumnya yang bersetting di Mesir, kali ini Kang Abik mencoba mengeksplorasi keindahan bumi Rusia, khususnya kota Moskow.
CERITA
Dan tersebutkah seorang pemuda Indonesia bernama Muhammad Ayyas, seorang mahasiswa pasca sarjana di Delhi, India yang juga seorang santri. Muhammad Ayyas yang sebelumnya kuliah di Madinah ini berniat ingin mengerjakan tugas penelitian dari Dosen pembimbingnya yaitu mengenai Kehidupan Umat Islam di Rusia pada masa pemerintahan Stallin.
Tibalah ia di Rusia dengan disambut oleh teman lamanya David. David inilah yang mencarikan apartemen tempat tinggal untuk Ayyas. Dengan alasan keterbatasan budget yang dimiliki Ayyas dan lokasi apartemen yang strategis ternyata David hanya bisa mendapatkan sebuah apartemen yang berbagi dengan orang lain. Parahnya teman seapartemennya itu adalah dua orang wanita Rusia yang jelita. Serangkaian masalah bagi Ayyas pun bermula dari sini.
Yelena seorang pelacur kelas atas dan Linor seorang pemain biola yang akhirnya diketahui sebagai agen rahasia Mossad adalah 2 wanita yang menjadi teman seapartemen Ayyas. Apartemen yang memiliki 3 kamar ini mengharuskan Ayyas harus selalu berinteraksi dengan keduanya di ruang tamu, dapur, dan ruang keluarga. Sungguh ini merupakan godaan keimanan yang dahsyat bagi Ayyas yang mencoba menjaga kesucian dirinya sebagai muslim.
Godaan bagi Ayyas tidak hanya sampai di situ, dosen pembimbing yang dirujuk oleh dosennya di Delhi tidak bisa melakukan bimbingan ke Ayyas karena sesuatu hal, dia menyerahkan tugas bimbingan ini kepada asistennya. Dan ternyata sang asisten adalah seorang gadis muda jelita bernama Anastasia, seorang penganut kristen ortodoks yang sangat taat.
Interaksi yang intens sang asisten dengan Ayyas menimbulkan rasa simpati yang lebih di hati Anastasia kepada Ayyas. Ketertarikan itu pun kian hari kian menguat. Di lain pihak Yelena tengah dilanda konflik dengan sang mucikari dan Linor sang agen Mossad tengah menyiapkan rencana jahat kepada Ayyas, yaitu menyiapkan rekayasa fitnah sebuah pengeboman yang diarahkan agar Ayyas sebagai pelakunya.
Tiga wanita inilah yang mendominasi jalannya kisah dalam Bumi Cinta. Tidak ada konflik yang sedemikian hebat dalam kisah ini sebagaimana kita temui pada sosok Fahri yang sempat masuk penjara di Mesir, atau tokoh Furqon yang sempat terkena virus HIV. Di sini tokoh Ayyas hanya “nyaris” dipenjara karena difitnah melakukan pengeboman di Hotel Metropole oleh Linor.
Kisah ini juga dilengkapi dengan peristiwa pembantaian Zionis terhadap muslim Palestina di Sabra dan Sathila. Nuansa romansa memang terasa sangat kental di sini. Tiap halaman akan kita jumpai gejolak perasaan Ayyas atas wanita-wanita jelita yang dijumpainya.
KEKURANGAN
Lagi-lagi Kang Abik menampilkan tokoh yang terlalu sempurna di sini. Muhammad Ayyas memang dikisahkan tidak tampan dan juga tidak jelek, namun ia sangatlah cerdas, saleh, tawadhu, memiliki kepekaan sosial yang luar biasa, sangat romantis dan sifat-sifat baik lainnya. Bahkan berkali-kali Ayyas digambarkan menangis akan hal-hal yang ia anggap merupakan dosa atau mendekati dosa.
Banyak terdapat dialog-dialog yang sangat panjang yang jika kita bayangkan dalam dunia nyata ini akan sangat tidak realistis. Kang Abik dalam hal ini kurang halus dalam menyusupkan nilai-nilai dakwah. Tidak seperti dalam Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih, dialog-dialog bermuatan dakwah dalam novel ini ada kesan menggurui dan terlalu berpanjang-panjang.
Plot cerita terasa sangat datar. Ketika peristiwa pengeboman terjadi saya berharap ini menjadi klimaks cerita tentang kedzaliman yang harus dihadapi Ayyas, namun sayang ini sekali ini tidak kita jumpai. Tokoh Ayyas di sini tidak menghadapi konflik yang berarti alias bahagia-bahagia saja sepanjang cerita.
Mengapa yang terpikat kepada Ayyas seluruhnya merupakan wanita-wanita cantik? walau pun dengan ragam latar belakang yang berbeda tetap ini merupakan gangguan buat saya pribadi ketika membacanya.
KELEBIHAN
Sebagaimana novel sebelumnya, Bumi Cinta sarat degan muatan dakwah. Kisah romansa berbalut nilai dakwah ini disajikan dengan apik dan asyik untuk dinikmati. kang Abik juga menyelipkan kisah Sabra dan Sathila yang merupakan kisah pembantaian Zionis atas muslim Palestina.
Kang Abik menggambarkan kota Moskow dengan amat sangat detail, dari lokasi-lokasi strategis, gedung-gedung bersejarah, makanan khas Rusia, metro yang merupakan kebanggaan masyarakat Moskow, gaya hidup masyarakat di sana serta hal lainnya. Semua digambarkan dengan sangat jelas dan detail. Kutipan-kutipan bahasa Rusia juga benar-benar mampu menghanyutkan pembaca seakan benar-benar berada di negeri Rusia.
Akhir kisah yang menggantung, yaitu ketika Linor ditembak oleh agen Mossad setelah ia berhijrah ke Islam. Hingga halaman terakhir tidak diketahui apakah Linor ini akan mati atau selamat. Terus terang ini sangat membuat penasaran.KEINDAHAN KOTA MOSKOW
Inilah beberapa foto beberapa lokasi yang menjadi latar belakang novel Bumi Cinta ini. Kita bisa membayangkan betapa indah dan cantiknya kota Moskow itu.


sheremetyevo_airport, bumi Rusia yang pertama dijejak Ayyas



Apartemen Kwartina, tempat tinggal Ayyas bersama Yelena dan Linor






MGU, Universitas kebanggaan masyarakat Moskow







KBRI di Moskow







Stasiun Metro Smoleskaya, lihat kemegahannya







Stasiun Metro Kievskaya, sebuah keanggunan yang berkelas







Stasiun Metro Komsomolskaya, ini stasiun atau istana ya?







Blue Mosque, satu dari 5 buah masjid di Moskow







Gereja St. Basil di Red Square (lapangan merah)








Hotel Metropole yang menjadi sasaran pemboman dalam novel ini




KESIMPULAN Bumi Cinta sebagaimana novel Kang Abik sebelumnya memang menawarkan sebuah kisah romansa yang sangat indah dengan tetap dibalut nilai-nilai Islami. Novel ini mampu membangunkan jiwa-jiwa terlelap akan kelalaian mensyukuri nikmat Tuhan. Sangat layak dibaca dan dikoleksi :)

Bumi Cinta
Habiburrahman El Shirazy
Penerbit BASMALA
546 halaman
Harga : Rp. 50.000,00