Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Dalam Gelap Mereka Berdzikir

Posted by Fursan Allail On 21:32 | No comments
Alangkah pekatnya ruang itu. Setitik cahaya pun tak terlihat. Ameer meraba-raba. Tak ada tembok ataupun benda lain yang kiranya bisa menjadi penuntun tangannya. Semakin menambah aroma kekosongan dalam gelap semesta. Seperti alam kubur. Ataukah ia sudah mati?

Ameer meraba detak jantungnya. Masih berdenyut. Kenyataan itu mendorongnya untuk terus berjalan mencari cahaya.

Sampai akhirnya ia melihat setitik terang di ujung sana. Ameer berlari menyongsongnya. Semakin dekat semakin jelas bahwa itu memang cahaya. Semakin menyilaukan mata. Saat itulah Ameer menangkap suara merdu alunan dzikir dari arah cahaya itu. kemerduan yang begitu memikat.

Hanya beberapa meter lagi Ameer akan masuk ke dalam pelukan cahaya itu, tiba-tiba saja sebuah ledakan menghentakkan semuanya.

Bum!!

Ia merasa tubuhnya telah berkeping. Ia merasa telah tak berbentuk lagi. Hanya bersisa perasaan kosong. Hampa. Hening. Dalam keheningan itulah alunan dzikir yang tadi sempat musnah kini kembali menyapa telinganya. Anehnya, tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Serasa ada yang mengikatnya, namun tali itu tak terlihat mata. Hanya ada gelap dan kekosongan. Benar-benar kematian.

“Hei, ayo bangunlah. Sudah waktunya,” alunan dzikir itu berubah suara bisikan yang menyentakkannya.

Ameer tergeragap. Kedua matanya silau oleh cahaya yang tiba-tiba telah mengurung dirinya. Rupanya Ali sudah berada dalam kamarnya.

“Hampir dini hari,” ucap Ali. Seolah menyuruh Ameer segera gegas melakukan sesuatu.

Mimpi yang lumayan aneh. Ameer mengusap wajah sebelum beranjak bangkit. Apa ia harus menceritakannya kepada Ali, atau Ummi? Ah, sepertinya mimpi yang tak penting.

* * *

Gelap meraja. Padang pasir seolah mulut mimpi yang menganga. Bentangan langit bertabur kerlip gemintang. Bulan terlihat penuh, bagai tambur raksasa berwarna pucat. Jauh di depan sana, samar terdengar riuh. Selatan masih terjaga. Kabarnya, mereka sedang ribut-ribut hendak menggulingkan pemimpinnya.

Bayangan itu membuat Ameer menoleh ke Utara yang tampak lengang dan lelap, setelah berbilang hari kedamaian dibantai, hingga rumah sakit Shifa meledak kelebihan pasien. Masing-masing hanya mementingkan kekuasaan sendiri tanpa memedulikan rumput-rumput yang terinjak. Dari yang semula berkawan bisa menjadi musuh. Dari yang semula musuh pun berubah menjadi sekutu. Ameer mulai memahami sesuatu ketika hidupnya semakin hari semakin tak menentu. Bahasa politik mereka selalu berubah ketika kekuasaan telah di tangan. Ia jadi malas jika ada teman yang menawari ikut gerakan ini-gerakan itu.

Ameer telah bersusah-susah hingga ia berhasil menamatkan pendidikan di bangku universitas. Betapa almarhum Abi pun Ummi telah memeras keringat demi masa depannya. Tapi lihatlah sekarang, jurang pengangguran menganga melahapnya. Alangkah banyaknya teman sebaya yang senasib dengannya.

Setelah masa kecil yang buruk di kamp pengungsian, setelah masa remaja yang bengal mengikut arus menuntut kemerdekaan, semua itu lalu terasa sia-sia setelah dihadapkan pada kenyataan bahwa Ameer harus jungkir balik menghidupi Ummi dan kedua adiknya. Abinya tewas dalam penyerbuan Israel di awal tahun 2009. Lelaki yang benci peperangan itu bahkan akhirnya harus remuk juga oleh sebuah rudal nyasar.

“Turunlah dengan tali itu,” suara Ali membuyarkan perjalanan lamunan Ameer.

Sebuah lubang bermulut gelap menganga di hadapannya. Tersembunyi di balik bebatuan bukit.

“Yang lainnya mungkin sudah menunggu di dalam.”

Seperti masuk ke dalam lubang kematian. Seperti saat itu, ketika ia dan Saeb tergoda menyusup ke ladang gandum milik orang Israel. Pencurian itu tertangkap basah. Mereka tak mungkin lagi pulang melalui terowongan kecil—saluran irigasi—jalan masuk yang tadi mereka masuki. Lari lintang pukang tak tentu arah. Sialnya salah arah. Saat hampir mencapai perbatasan ladang gandum, berondongan peluru menghujani. Ia tertembak. Di sebelah bahu kiri. Gelap langsung menyambutnya. Gelap yang berbunyi suara-suara Saeb.

Namun sejak saat itu ia tak pernah lagi bertemu Saeb. Ia menemukan dirinya telah dirawat oleh keluarga Ummi Nemer. Tak tahu bagaimana ia bisa sampai di Khan Yunis. Dari Rafah lalu sampai Khan Yunis, oo ia mulai sadar bahwa semula pasti ia telah disangka mati lalu dibuang ke daerah itu. Kabarnya di situ sering terjadi peristiwa bom bunuh diri. Mungkin mayatnya hendak dijadikan peringatan untuk para pengacau itu. Mungkin. Tapi ternyata nyawanya masih menempel. Sementara Saeb, mungkin ia sudah bennar-benar tewas. Entah di mana mayatnya dibuang.

“Ambil helm senter yang tergantung di dinding sebelah kiri,” suara Ali sejenak menyadarkan Ameer bahwa gelap masih menyekap. Cahaya purnama tak lagi bisa masuk ke dalam terowongan itu.

Ameer mengira-ngira kedalaman lubang itu. Mungkin sekitar lima belas meteran.

“Agar tak mudah hilang saat dibom. Terowongan ini sudah susah payah dibuat banyak orang. Banyak nyawa pula telah dikorbankan demi membuatnya. Terowongan ini tak boleh dilenyapkan dengan mudah begitu saja ,” ujar Ali, seolah tahu pertanyaan yang menggantung di benak Ameer.

“Dibom?”

“Sangat sering. Israel maupun Mesir telah mengetahui. Itulah mengapa dibuat banyak lubang, agar para pekerja bisa berganti-ganti tempat untuk mengecoh.”

Ameer menelan ludah. Hanya demi dua puluh lima dolar sehari, nyawa dipertaruhkan. Tapi adakah pilihan lain? Kehidupannya di Deir el-Balah tak lebih baik dari ini. Ummi bahkan harus sering berpuasa. Mau tak mau ia harus menyangga beban ini setelah Abi tiada.

Saat terang menyeruak, alangkah takjubnya Ameer. Ada beberapa karung gandum, beberapa kardus yang berisi entah apa, yang tergeletak di bawah gantungan helm. Menunggu untuk diangkut ke atas. Mungkin beberapa kebutuhan yang pokok yang telah dipesan. Beberapa peralatan gali ada di situ. Ameer mengambil sekop dan mulai berjalan ke arah gelap.

Suasana itu kembali terulang. Suasana dalam mimpinya. Aroma kekosongan mulai terasa. Seperti alam kubur. Lamat-lamat ia mulai mendengar suara itu. Mengalun. Begitu mengundang sepi.

“Aku pernah memimpikan ini,” Ameer tak tahan untuk tak mengucapkannya.

“Oya? Bagaimana kelanjutannya?” Ali terkekeh, seolah mengentengkan ucapan Ameer barusan. Seolah menganggapnya sebagai hiburan.

“Aku melihat cahaya di ujung sana,” ujar Ameer kemudian.

“Iya. Selesaikan tugasmu, maka kau akan menemukan cahaya. Cahaya tanah Musa di Mesir!” suara Ali sedikit bergema.

Hingga puluhan langkah cahaya itu tak juga terlihat. Alangkah panjangnya lorong ini.

* * *

Ameer melinggis dinding tanah di hadapannya dengan penuh semangat. Sesekali ia menyenandungkan beberapa surat AlQur’an yang tengah dihafalnya. Meniru beberapa teman lain, yang berusaha mengusir sepi.

“Agar kalau kita mati, langsung mati syahid, hahaha…,” gurau Hameed.

Kata teman-teman, Hameed memang pernah terkubur dalam sebuah terowongan akibat terkena rudal Israel. Dua temannya tewas tertimbun, sedang tiga penggali lainnya kritis, termasuk Hameed. Beruntung teman-teman di luar segera sigap menolong.

“Heh, apa tadi kau sudah pamitan?” Saed menyenggol Ameer.

Ameer tersenyum, “Ummi menangis tadi,” bermaksud mengimbangi gurauan.

Bukan, bukan ummimu. Maksudku, apa kau sudah pamitan dengan gadismu?” sahut Saed.

“Huahahaha…,” gurauan itu segera bersambut tawa dari yang lainnya.

Ada saja cara untuk mengusir sepi dan jenuh dalam lubang gelap itu. Dari mulai berita politik, masakan di rumah, sampai gadis yang tengah diincar.

“Kali ini kita harus menggali lebih dalam dan lebih panjang lagi,” Hasyeem mengusap peluh di pelipis. “Jangan sampai nanti kita muncul di depan pagar rumah Mesir,” Hasyeem celingukan. Ia kira gurauannya kali ini akan bersambut tawa yang lebih keras. Tapi ternyata tak.

“Aku juga sudah dengar kabar tersebut. Pagar baru itu dibangun sepanjang sebelas Kilometer dengan kedalaman delapan belas Kilometer. Mengerikan sekali andai pagar itu menembus terowongan yang tengah kita gali, kita terjebak di dalamnya, lalu teman-teman kita di luar tak ada yang mengetahuinya.”

Sepi. Tak ada sahutan lagi. Seolah masing-masing tengah membayangkan kematian yang bisa tiba-tiba datang menjemput.

Bumm!!

Tiba-tiba saja bumi berguncang. Pasir berjatuhan dari atas. Lima pemuda itu lintang-pukang tak karuan. Saeed dan Hasyeem berkali-kali melantangkan takbir. Dada Ameer berdetak kencang. Mimpi kelam itu kembali melintas. Inikah maut?

“Bukan kita!!” teriak Saed ketika sampai di mulut terowongan. Tali masih terlihat menggantung.

Hampir putus nafas Ameer. Ia ambruk ke sisi tembok. Tengadah menatap langit. Saed, disusul Hameed, telah merambat ke atas. Ya rabbi, siapakah yang kiranya terkubur hidup-hidup malam ini?

* * *

Pemakaman Zuhdi berlangsung khidmat. Tak ada tangis keluarga yang mengiringi. Air mata sudah terlampau kering. Apalagi bagi mereka yang telah mengikhlaskan anggota keluarganya bekerja sebagai penggali terowongan maut itu.

Beruntung rudal tak jatuh tepat di mulut terowongan. Rudal itu meleset dua meteran dari sasaran. Namun ternyata masih cukup kuat merontokkan kayu-kayu penyangga di mulut terowongan. Naas bagi Zuhdi yang saat itu sedang merayap naik memikul sekarung gandum.

Sepulang dari pemakaman, Ameer kembali disergap kekosongan. Entah mengapa ia ingin berlama-lama menatap Ummi dan kedua adiknya. Malas melakukan apapun. Ameer hanya ingin melihat aktivitas dalam rumahnya—ia mengandai-andai jika ia sudah tak ada lagi.

“Kamu sakit?” Ummi menyeka dahi Ameer. “Kalau tak enak badan, tak usah berangkat ke terowongan itu lagi.”

Ameer tersenyum. Segera beranjak mengambil sarapan. Ia sudah menanam janji hati, sepeninggal Abi ia tak akan membiarkan Ummi patah kaki memikul beban keluarga seorang diri. Ameer rela berpeluh dalam pekerjaan apapun, meski harus bertaruh nyawa.

Tapi entah mengapa kekosongan itu semakin mendera saja. Ameer ingin rembulan berhenti bergerak menuju puncak tengah malam. Saat berpamitan, Ameer ingin sekali memeluk Ummi tanpa dibatasi waktu. Tapi semua seolah tak peduli dengan kekosongan yang meruapi hatinya.

Rafah telah pulas ketika Ameer menuruni sebuah terowongan lagi.

Ameer coba mendesiskan surat Yaa-Siin yang baru seminggu lalu ia hafal secara penuh. Ia meniru teman-temannya yang selalu punya cara untuk membunuh sepi.

Gelap mengakap. Cahaya hanya berasal dari helm yang dikenakan mereka yang berjalan di depan. Sampai kapankah Ameer harus melakoni ini? Pemuda itu terus bertanya pada dirinya sendiri. Kekosongan yang mendera hati terus membuntuti.****

Malu

Posted by Fursan Allail On 19:52 | No comments
Untuk kedua kalinya, aku terpaksa pindah kerja lagi. Minta di mutasi. Aku malu dan tak tahan dengan tatapan sinis serta cibiran teman sekantorku. Walaupun mereka tak pernah mengatakan langsung padaku. Tapi aku dapat merasakannya. Pernah sekali, aku mendengar secara tak sengaja memergoki mereka membicarakan hal buruk tentangku. Ketika saat itu aku mau ke toilet.
“Nggak nyangka ya, ternyata Bu Halimah itu isterinya koruptor!” Bu Wati membuka percakapan.
“Iya, benar. Mafia pajak lagi...” sahut Bu Fatma.
“Walaupun berjilbab. Ternyata tetap aja ya mau makan uang haram. Aku sih ogah...” tambah Bu Sari menggedekkan bahunya.dengan mimik jijik.
“Pantesan aja, tiap bulan mobilnya ganti-ganti terus...”
“Hu-uh...”
Serasa bagai ada sengatan listrik yang menjalar ke nadiku. Tubuhku bergetar menahan marah. Berani-beraninya mereka membicarakanku di belakang. Ingin sekali aku melabrak dan memarahi mereka habis-habisan. Tapi urung. Karena memang benar suamiku adalah seorang koruptor. Dari pada telingaku semakin panas, lebih baik aku pindah kerja saja.
***
Mulanya, aku tak tahu. Suamiku selalu bilang itu rezeki yang diberikan Allah, setiap kali dia menyerahkan gaji bulanannya padaku. Karena memang tugasku sebagai seorang isteri mengelola keuangan keluarga.
“Sudahlah, Bu. Tak usah banyak tanya, Bapak capek, mau istirahat dulu. Ibu simpan saja uang itu untuk keperluan kita dan anak-anak nanti...” kata suamiku beranjak ke kamar tidur. Meninggalkanku sendirian di depan televisi. Anak-anakku, Bagas dan Rinata sudah pulas. Besok mereka ada ulangan di sekolah.
Bulan berikutnya, uang gaji suamiku lebih banyak yang disetorkan padaku. Hampir dua kali lipat bertambahnya. Padahal aku tahu, suamiku cuma berpangkat golongan II a. Mana mungkin punya gaji sebanyak ini. Kalaupun ada kenaikan gaji tak mungkin akan sebanyak ini juga.
Dan pernah, dalam sebulan dua kali suamiku memberikan uang padaku. Katanya ada bonus dari kantor. Padahal, lebaran baru lewat, tak mungkin pihak kantor memberikan THR tambahan untuk pegawainya. Hingga membuatku curiga.
“Bapak tidak korupsi, kan?” tanyaku menyelidik di suatu hari.
Aku takut uang yang suamiku berikan adalah uang haram, hasil korupsi atau suap. Terutama juga anak-anakku. Aku tak ingin mengalir dalam darah mereka, sesuatu yang haram. Aku pernah mendengar pengajian, tubuh yang di dalamnya terdapat daging dan darah yang diberi makan dari hasil yang haram, maka hanya nerakalah yang pantas membakarnya. Na’uzubillah. Aku ngeri membayangkannya.
Tanya itu membuat mata suamiku mendelik tajam menatapku. Tak pernah aku melihat tatapan matanya seperti itu. Seperti ada kilatan, tapi aku tak bisa menafsirkan apa artinya. Tapi itu hanya sesaat, suamiku malah tertawa santai. Keningku berkerut bingung.
“Lho, kenapa Bapak tertawa?” tanyaku heran.
Suamiku masih terkekeh. Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya
“Ibu ini lucu....”
“Lucu?”
Masih terkekeh sambil melipat koran yang dibacanya.
“Iya, lucu. Ibu, kan, tahu sendiri. Bapak, kan, rajin shalat. Tak mungkinlah Bapak korupsi...”
Memang suamiku tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Hanya saja, shalatnya selalu kilat. Cuma beberapa menit selesai. Itupun tanpa wiridan, hanya doa pendek yang dibacanya. Aku jadi ragu, apakah shalatnya itu khusyu?
“Apa hubungannya?” tanyaku semakin bingung.
Suamiku mendesah panjang. Mungkin kesal, karena aku tak mengerti arah pembicaraannya.
“Apa ibu sudah lupa? Shalat itukan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Termasuk korupsi....”
“Oh......” Aku manggut-manggut. Karena sudah tahu hubungannya shalat dengan korupsi. Masuk akal juga, pikirku.
Namun, jujur aku masih tak yakin dengan ucapan suamiku. Bisa saja kan, bila sudah melihat uang yang banyak, mata jadi hijau. Dan lupa dengan segalanya. Apalagi setan tentu tak akan tinggal diam menggodanya. Sehingga aku hanya menyimpan uang itu dalam lemari, dan tak ku pakai sepeserpun. Hanya gajiku yang ku pakai untuk membeli keperluan rumah, sembako, dan juga pakaian. Tentu, itu ku rahasiakan dari suamiku. Aku takut dia marah dan tersinggung.
***
Waktu sore, suamiku pulang dengan sebuah kejutan. Dia baru saja membeli mobil baru keluaran terkini. Suamiku terlihat sangat bangga, tergambar dari senyum sumringahnya, ketika ku menyambutnya di depan pintu.
“Bapak dapat uang dari mana? Sampai bisa beli mobil mewah itu...” tanyaku penasaran saat makan malam. Lain dengan anak-anakku, mereka sudah tak sabar ingin naik mobil itu, jalan-jalan. Perasaanku mulai berprasangka buruk pada suamiku.
“Hadiah dari teman, Bu” jawab suamiku santai. Sembari mengunyah udang goreng, makanan kesukaannya.
“Jangan...jangan, Bapak menerima suap, ya?” kejarku. Apa yang ada di dadaku meluncur juga.
Braakkkk!!!
Suamiku menghentakan tangannya ke meja. Membuat piring dan gelas bergemerincing. Aku kaget, juga anak-anakku.
“Ibu jangan berkata sembarangan. Beraninya menuduh Bapak seperti itu...” muka suamiku memerah marah. Matanya berkilat-kilat.
Aku diam, tak ingin menyanggahnya. Kalau diladeni, aku takut akan terjadi pertengkaran di depan Bagas dan Rinata. Tak baik bagi mereka.
“Nafsu makan Bapak jadi hilang....” suamiku langsung bangkit dan pergi dari meja makan.
“Sudah...sudah....lanjutin makan kalian!” ucapku pada anakku “Mungkin, Bapak tadi lagi kecapean...”
***
Sejak kejadian itu. Suamiku bersikap dingin. Dia hanya menjawab dengan lenguhan-lenguhan kecil setiap kali aku mengajaknya bicara. Aku jadi merasa bersalah, karena telah menuduh suamiku menerima suap tanpa bukti. Kalau dibiarkan, tentu akibatnya mengganggu keharmonisan keluarga.
Malam ini, aku menunggu suamiku di ruang tamu dengan gelisah. Sudah jam sepuluh malam. Kenapa dia belum pulang? Batinku mengeram tanya. Kalau memang tidak pulang, dia pasti sudah menelpon. Karena itu adalah kebiasaannya, tak ingin membuat orang rumah kwatir. Aku sudah putuskan untuk meminta maaf padanya malam ini. Jadi, aku tetap menunggunya sampai suamiku pulang.
Untuk mengusir kantukku. Ku hidupkan televisi di ruang tamu. Ku pencit-pencit remote dengan kesal. Karena belum juga menemukan acara yang seru. Betapa kagetnya aku, saat melihat wajah suamiku terpampang jelas di kotak segi empat ajaib itu. Di acara Breaking news. Diapit oleh dua orang polisi, berjaket hitam. Puluhan mata blizt kamera wartawan menghujani wajah suamiku dengan kasar.
Suara seorang reporter mengatakan, bahwa Darmaji, suamiku, menjadi salah satu tersangka makelar kasus, penggelapan pajak di Kementerian Keuangan. Dengan membantu, beberapa perusaahan besar untuk menyusutkan pajaknya. Sehingga Negara dirugikan ratusan miliar.
Tubuhku langsung terpaku dan membisu. Remote yang tadi ku pegang terhempas ke lantai. Baterainya terlepas berhamburan.
***
Saat ku menjenguk suamiku bersama anak-anak di rumah tahanan. Dia menangis tersedu-sedu di depan kami. Menyesal dan meminta maaf, karena telah berbohong. Memberikan uang yang haram.
Aku yang sangat mencintai suamiku. Dengan mudah memberikan kata maaf padanya. Begitu juga dengan anak-anak. Dan ku katakan, bahwa uang yang dia berikan selama ini, tak pernah ku pakai. Masih tersimpan rapi dalam lemari. Itu membuatnya sedikit lega. Paling tidak, aku dan anakku yang tidak menikmati uang haram itu.
Walaupun aku memaafkannya tulus, namun hukum tetaplah hukum. Suamiku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Perguncingan di berbagai mediapun tak bisa terelakkan. Menjadi Headline di setiap surat kabar nasional. Bahkan bisa d katakan, ketenaran suamiku langsung meroket, bak selebritis yang selalu diburu oleh kuli tinta. Begitu juga di kantor tempat ku bekerja. Nama suamiku menjadi topik utama untuk dibahas. Aku tak tahan mendengarnya, hingga aku minta dimutasikan.
***
Aku berharap di tempat kerja yang baru ini tak ada yang mengenaliku, isteri Darmaji, makelar kasus pajak, yang saat ini mendekam dalam penjara. Sama seperti Pak Camat yang dengan senang hati menerima surat yang ku ajukan kemarin.karena tak tahu siapa aku. Sehingga aku bisa bekerja dengan nyaman di sini.
Hari ini, adalah hari keduaku bekerja di kantor yang baru. Aku melangkah dengan ringan seolah tak ada beban melewati pintu depan. Beberapa orang pegawai tampak tersenyum ramah menyapaku.
Baru beberapa langkah aku melewati mereka. Terdengar suara pelan yang mengusik gendang telingaku.
“Sssttt..... bukannya itu isterinya Darmaji? Markus pajak itu...”
“Iya-ya. Aku baru ingat sekarang....”
“Wah, bisa gawat, nih. Bisa-bisa kita juga masuk teve. Karena dia kerja di sini...”
“Asyikkan.., kita bisa terkenal. Hehehe...”
“Hus..., siapa juga mau terkenal, karena berteman dengan isteri koruptor...”
“Sama, aku juga ogah...”
Aku baru ingat, ternyata aku pernah tersorot kamera teve, saat dimintai keterangan di kantor polisi. Pantesan saja dimana-mana orang tahu siapa aku. Aku melangkah gontai menuju ruang kerjaku. Mengetik sebuah surat pengunduran diri. Mungkin lebih baik aku berhenti bekerja. Dari pada harus mendengar perguncingan yang memanaskan telinga. Aku benar-benar malu. Sungguh malu.

Harum Kesturi di Tepian Gaza

Posted by Fursan Allail On 20:08 | 3 comments

Siang di Gaza memang selalu panas. Walau bukan musim panas, hawa yang menyengat tubuh pasti ada, karena memang dingin tak akan mungkin meredam panas. Panas dunia dan panas perang yang melanda Palestina. Perang yang tiada peduli dengannya. terkecuali mereka yang benar-benar membuka lebar-lebar daun telinga dan kelopak matanya.

Dentuman meriam memekikkan suasana, terlihat tank-tank merkava milik negeri tak punya rasa berjalan gagah menubruk semua yang ada di hadapannya, tak peduli apa dan siapa.

“Naj, ayo cepat lari mereka mengejar kita!” kata Rama dan Samah.

“Biar! Aku tak takut pada mereka!” jawab Najah.

“Tapi……mereka bersenjata ampuh, kita hanya bertangan kosong, mungkin hanya batu-batu di kanan kiri kita sebagai senjata.”

“Ya, benar kau Rama, oleh karena itu aku ingin melihat kejantanan mereka, aku yakin Allah pasti menolongku begitu juga kamu jika kita berani!” kata Najah mantap.

Kendaraan berlapis baja pun semakin dekat dengan mereka, terlihat tentara bertopi hitam, bersiap meluncurkan rudal dia makin congkak dan arogan.

“Najah, tank itu semakin dekat!” kata Rama lagi.

“Sudahlah kalau kalian takut, lari sajalah kalian, tinggalkan aku, biarkan aku di sini sendiri!” Najah menyuruh Rama dan Samah.

“Hayya baz, Rama adzunnu annahu yastathi’u an yadfa’a nafsah.” Samah berpendapat.2

“Laakin, Samah, akhoofu Najah….”

“Labbaik, Samah!”3 Rama menjawab meskipun masih tersisa keraguan.

Rama dan Samah pun berlari meninggalkan Najah. Mereka mencari tempat persembunyian. Dan mereka bersembunyi di balik gundukan rompahan gedung rumah yang telah lama hancur. Mereka masih memperhatikan temannya yang satu itu. Mereka mengintip Najah dibalikgundukan. Sedangkan Najah semakin mendekat dengan tank itu, dia menegakkan badan dengan di tangannya sebuah batu cukup besar. Dia pun berteriak:

“Hai, tentara monyet! Beranikah kau kepada anak kecil sepertiku? Beranikah kau kepada hamba Allah seperti aku? Kalau kau jantan turun, sini hadapi aku!”

Kelihatannya tentara zionis marah mendengar perkataan Najah. Mereka seperti tertantang dengan perkataan Najah. Perkataan Najah bak sambaran petir bagi mereka.

Dengan menenteng senjatanya mereka turun dengan wajah merah penuh arogan.

Laksana binatang buas yang melihat hewan buruannya dan ingin menerkamnya. Mereka semakin mendekat dengan Najah. Tetapi Najah tak gentar. Bahkan sepertinya tentara itu semakin ragu dan takut. Dengan keberanian Najah mereka pun berhenti melangkahkan kaki seperti kehilangan tenaga.

Najah pun mempersiapkan tangannya untuk melemparkan batu.

“Hai, zionis drakula! Kenapa berhenti? Takut kalian?” Najah mengejek penuh sindiran.

“Heh, sini keturunan monyet bunuh aku, kalian membawa senjata kenapa harus takut, aku yang hanya membawa batu saja tidak takut, berarti kalian banci!” ledek Najah lagi.

Mendengar cemoohan dan sindiran Najah yang berulang kali, sehingga membakar kembali kemarahan mereka. Mereka mempersiapkan senjata, dan mengarahkannya kepada Najah. Saat itu Najah melemparkan Batunya ke salah satu tentara.
“Allahu Akbar, hiaaaa!” Najah bertakbir sambil melemparkan batu.

Batu melesat jauh. Tepat mengenai sebelah mata salah satu tentara.

“Ahh....awas kau bocah kecil!!” teriak lengking tentara itu.

Dan tentara lain pun terkejut atas perbuatan Najah itu.

“ Hayya qottilni,4 bunuh aku…!” Najah berkata penuh keberanian.

Tentara lain pun siap meluncurkan timah panah kepadanya. Mereka tengah mengarahkan tembakan. Dann…

“Doorrrr…dorrrr…….dorrrrrrrrr.”

Tembakan tentara Israel memuntahkan amunisi tajam.

Tiga timah panas tepat mengenai kepala dan perut Najah. Dan dia jatuh terkapar di atas tanah, matanya menatap langit yang mulai keliatan terlintang mendung. Dan berkata:

“ Laa ilaaaha illallah, Muhamaad rasuulullah!”

Tentara zionis tertawa terbahak-bahak ketika Najah mati. Dan seketika itu pula, Rama dan Samah lari terbirit-birit takut menjadi sasaran yang berikutnya. Tentara Israel melihat mereka dan mengejarnya.

“Hei, jangan lari kalian!” Salah seorang tentara berteriak.

Tetapi mereka berdua tetap lari penuh rasa takut yang berkecamuk di otak. Siang itu mereka tengah shaum ramadhan. Sehingga itu mempengaruhi stabilitas kerja tubuh mereka. Samah tak kuat lagi untuk berlari. Samah tersandung batu di jalan yang di laluinya. Rama sudah cukup jauh darinya.

“ Rama…. Rama!” Samah berteriak.

Rama menoleh kebelakang kaget dan segera mendekatinya.

“Kau tidak apa-apa, Samah?”

“Aku tidak apa-apa kok, cuma kesandung batu.”

“Ayo, Samah, berdiri! Tentara itu semakin dekat!” Rama berkata sambil mengangkat badan Samah.

Dan mereka mencoba berlari lagi, mencoba menghindari cengkraman hewan-hewan buas kelaparan lagi haus darah itu. Ternyata Samah tak sanggup lagi meneruskan larinya. Dia berhenti tak melangkahkan kaki. Tentara Israel pun melesatkan peluru kepadanya. Karena dia satu-satunya target yang terdekat. Timah panas manancap tepat di kaki kirinya. Dan yang kedua kalinya tembus tepat mengenai perutnya. Samah pun jatuh seketika. Rama yang telah lari jauh jaraknya darinya ingin kembali dekat dan menolongnya. Setelah mengetahui Samah tertembak dan terjatuh.

"Rama, pergilah kau tak usah kembali, pergi…!” teriak Samah di sisa nafasnya.

Akhirnya Rama memutuskan untuk meninggalkan Samah, dan terus berlari. Karena dia telah memikirkan hal-hal aneh yang semestinya tidak dia pikirkan termasuk takut mati, takut akan datangnya malaikat Izrail menjemputnya. Tentara Israel tak meneruskan pengejarannya. Mereka membiarkan Rama lari dari kejaran mereka. Mungkin mereka telah puas dari dahaga haus darah. Dua orang mungkin telah cukup bagi mereka. Rama terus berlari hingga rumahnya.

***

Menjelang maghrib, Rama menemui ibunya yang sejak tadi sehabis ashar menyiapkan menu untuk berbuka. Meski dibawah satu rumah yang berpenghuni dua manusia. Ibu Rama, tetap bersemangat dalam meladeni anaknya, apalagi di bulan ramadhan. Rama menuju meja makan, yang sudah lapuk di makan rayap. Tersedia kurma, awameh makanan khas ramadhan dan idhul fitri dan sirup khas palestina di atas meja. Rama duduk di kursi meja makan sambil menunggu ibunya duduk pula. Saat itu sang ibu meletakkan menu makan setelah shalat maghrib nanti.

“Ramadhan, dari mana saja seharian kok ibu tidak melihat kamu sama sekali?” tanya Ummi.

“Rama dari main bersama-teman,” jawab Rama tidak mengatakan yang sebenarnya.

“Kok mainnya lama sekali, dari mana saja?” tanya ibu lagi.

“Cuma di sekitar sini saja, Bu...” jawab Rama agak tergagap.

“Sungguh…?” ibu penasaran.

“Iya sungguh, Bu.” Rama meyakinkan ibunya.

Azan maghrib berkumandang dari masjid Ar-Rahmah. Tanda ifthor boleh dimulai. Maka setelah berdoa buka puasa Rama dan ibunya pun menyantap menu ifthor yang tersedia di meja. Dan ibunya menyuruh Rama untuk tak lupa berdoa kepada Allah SWT untuk ayahnya, yang telah lama dahulu kembali pada-Nya meninggalkan dia dan ibunya. Sebenarnya Rama masih bingung siapa sebenarnya ayahnya. Tapi menurut dia ayahnya adalah orang yang paling jahat sedunia, tak punya rasa prikemanusiaan. Karena meninggalkan dia dan ibunya sejak lama.

***

Shalat isya dan tarawih pun selesai di tunaikan. Ramadhan berdoa untuk kedua temannya yang mati, akibat kebiadaban zionis . Ia teringat pada perkataan ibunya, do’akan ayahmu Rama. Di situ otak Rama, kembali berpikir siapakah ayahnya sebenarnya, apakah benar yang ada di benaknya selama ini. yang menganggap ayahnya seorang penjahat yang tak tahu diri, meninggalkan dia dan ibunya dalam kesulitan hidup. Ketika pikirannya melayang telah melanglang buana. Seorang di samping Ramadhan bersalam kepadanya dan menyapanya.

“Betulkah kau Ramadhan, anak Baasil Qawasimi, qoid Brigade Izzudin Al-Qossam yang mati syahid beberapa tahun silam itu?” kata orang itu.

“Ya, benar,” jawab Rama.

Sebenarnya Rama sangat risih dengn kata syahid yang disandangkan kepada ayahnya.

“Apakah benar, pagi tadi kau bersama anak yang benama Najah al-Sumairi dan Samah Nawahi?”

“Benar.”

“Mengapa kau biarkan mereka syahid sedangkan engkau tidak?”

Pikiran Rama masih beku. Dia tak mampu menjawab pertanyaan itu. Rama terdiam, tak sanggup mengeluarkan kata. Karena di otaknya ada permasalahan yang berbenturan, membuatnya tak berargumentasi.

Rama tetap tak sanggup menjawab. Karena dia bingung akan menfokuskan yang mana. Akhirnya dia pun mengeluarkan sebait kata. Bukan sebuah jawaban tetapi sebuah pertanyaan.

“Yaa, Sayyed, apa yang kau tahu dari ayahku?”

“Maksudmu apa, Rama?”

“Siapakah ayahku sebenarnya? Itu yang masih misterius di benakku.”

“Rama, kau tak tahu bagaimana kehidupan ayahmu?”

“Hanya yang biasa kudengar saja.”

“Rama, ayahmu adalah seorang Qoid Brigade Izzudin al-Qossam, beliau syahid sebelum kamu lahir. Beliau sangat dicintai oleh masyarakat, karena kebaikan hatinya dan keberaniannya menentang zionis.”

Sekian jam lamanya, orang itu bercerita apa adanya tentang ayah dan kehidupannya. Rama merasa telah terbawa kepada sejarah pahit Palestina dahulu kala, yang sampai sekarang tak terhenti. Tak terhenti kecuali lahir pejuang-pejuang Allah yang benar mengharap ridha-Nya. Kembali pikiran Rama dalam sebuah kerancuan. Apakah benar ayahnya seorang pejuang? Ataukah hanya seorang laki-laki yang sok jantan, sok berjuang melawan Israel tapi melalaikan kewajibannya terhadap keluarga yaitu memberikan penghidupan bagi istri dan anaknya, seperti dugaannya? tapi kalau memang benar dia adalah seorang pejuang, mengapa ruh pejuang tidak turun kepada jiwanya? Mengapa hanya sifat pengecut yang ada membelut otaknya?

“Seharusnya ruh ayahmu hadir kembali dalam jasadmu, keberaniannya, kebaikannya, betul kan itu?” tanya si sayyed berupa sindiran halus untuk Rama.

Hampir berpuluh pertanyaan hadir di benak Rama, tapi semua itu masih saja tak mendapatkan jawaban yang cocok di hatinya. Sehingga dia lupa terhadap orang di sampingnya. Yang mengajak dia ngobrol. Yang sejak tadi menunggu jawaban dari Rama atas pertanyaannya. Rama tak menjawab tak bisa menjawab apa-apa, karena dia tak mendengar apa-apa pula.

“Yaa salaam Rama, kaifa haaluka akhi?”5 tanya si sayyed lagi masih dalam rangka sindiran.

Ruh Rama yang sejak tadi tenggelam dalam ruang abstrak yang berisi berpuluh pertanyaan, akhirnya kembali ke jasadnya lagi. Ia pun kembali merespon orang yang sejak tadi di sampingnya.

“Oh, maaf, Sayyed.” Rama tergagap.

“Ah, tidak apa-apa, Rama, sepertinya kamu gak enak badan, baiklah saya pergi dulu.”

Sayyed berpamitan dan mengucapkan salam. Begitu juga Rama, cepat-cepat ia melangkahkan kaki keluar masjid, karena dia ingat, tadi pergi kemasjid bersama ibunya. Segera ia mencari ibunya. Ia mencari ke sudut belakang masjid, yang merupakan tempat shalat akhwat6. Sudut itu kosong, tak terlihat seorang hamba yang berdiam diri di dalamnya. Dia bingung, di manakah ibunya. Dia mengira ibunya telah mendahuluinya. Rama terus mengayunkan langkah, hingga dia sampai pada peneduh jasadnya. Rumahnya surganya.

***

16 Ramadhan 2003

Ia hampir tak percaya bahwa yang ada di dalam peti itu adalah jasad kedua sahabatnya. Sahabat sejak ibtidaiyah, selalu bersama. Saat gelak tawa harus hadir dalam kehidupan, bahkan sampai detik-detik menempuh ajal mereka masih bersama. Terkecuali Rama tidak bertemu sang Izrail pada waktu itu. Saat tertulis di luar kedua peti itu, Asysyahid Najah Al-Sumairi dan Asysyahid Samah Nawahi. Bulir-bulir tetesan air matanya, turun deras tak tertahankan. Dalam hatinya, ia tak merelakan mereka berdua. Karena persahabatan yang lama itu, kini hilanglah sudah.

Iringan orang-orang semakin jauh membawa mayat mereka berdua ke pemakaman massal para syuhada, di lapangan kosong bekas reruntuhan bangunan, dikarenakan pemakaman yang asli telah dikuasai oleh zionis. Rama masih di atas tanah yang ia pijak sejak tadi, sengaja ia tak turut ikut dalam prosesi pemakaman. Karena ia tak mampu menahan egonya. Sungguh jahat kau Israel begitu dalam hati Rama.

25 Ramadhan 2003

“Rama...Rama...di mana kau wahai anakku?” tiba-tiba ibu Rama memanggil anaknya yang sejak tadi tertawan sepi tak seorang kawan yang menemani.

“Labbaik, yaa Ummi. Ada apa, Ibu,” jawab Rama.

“Kemarilah, anakku!”

Rama datang menghampri ibunya.

“Anakku ada apa gerangan kau sejak tadi duduk di teras rumah sedangkan kau beberapa hari lalu bermain bersama kawan-kawanmu di luar sana bahkan hingga ke luar desa, adakah masalah yang menghampirimu?”

“Tidak, Ibu. Rama tidak dalam masalah.”

“Jujurlah, anakku. Ibu melihat dari bola matamu sebuah masalah yang menimpamu.”

Rama tak mampu lagi untuk berbohong kepada ibunya. Akhirnya dia mengatakan apa yang seenarnya terjadi kepada dirinya.

“Wahai ibuku, masalah Rama sebenarnya tidak besar, tapi Rama yang membuatnya besar,” jawab Rama.

“Ya, anakku utarakanlah pada ibumu!”

“Ibu, Rama sedih...teman-teman main Rama kini telah tiada, mereka dibunuh oleh Israel...Rama kesepian...”

“Sejak kapan itu anakku?” tanya Ibu.

“Sejak 10 hari lalu, saat Rama pulang ke rumah agak sore itu, kami di kejar-kejar tentara zionis di dekat Jalur Gaza, dan kedua teman Rama di tembak dan mati di tempat.”

“Oh, waktu itu mengapa kau tidak jujur kepada Ibu?”

“Rama takut ibu akan khawatir, jadi Rama tak mengatakan yang sebenarnya.”

“Mengapa kau tidak mati saja bersama teman-temanmu?”

“Tidak! Rama ingat Ibu sendirian di rumah. Rama ingin jaga Ibu. Mengapa Ibu menginginkan Rama mati, apakah Ibu tak sayang pada Rama?”

“Rama, tidakkah kau ingin seperti ayahmu yang syahid di jalan-Nya? Tidakkah kau iri, kawan-kawanmu telah menginjakkan kaki di surga lebih dahulu dan bersenang dengan bidadari Ainul Mardhiyah, sedangkan kau masih terbeku kaku di sini?”

Rama masih saja diam tak bersua, terlihat dia dalam kebingungan yang nyata.

“Anakku, sesungguhnya ibu lebih bangga jika anak Ibu mati syahid di jalan-Nya, itu lebih berharga, Ibu akan dipermudah memasuki surga nantinya...”

Entah mengapa, tiba-tiba saja mendengar perkataan ibunya, ruh Rama seperti terhenyak.

***

“Heh, anak muda! Mana kartu identitasmu? Serahkan padaku, cepat!” bentak seorang tentara Israel yang berjaga di sekitar Masjid Al-Aqsa malam itu. Rama menyerahkan kartu identitasnya, kepada tentara itu.

Memang Al-Aqsa selalu dijaga oleh tentara Israel, karena mereka khawatir akan ada penyusup dari para pejuang islam. Dulu pernah terjadi pengeboman terhadap orang-orang Yahudi yang sedang berdoa di Tembok Ratapan. Mereka pun membatasi orang yang akan shalat ataupun itikaf ketika Ramadhan, berkisar lima belas ribu orang hingga dua puluh orang. Padahal muatan Masjid Al-Aqsa hingga dua ratus ribu orang.

Rama berjalan memasuki Masjidil Aqsa, meskipun berdesak-desakan berebutan dia tetap mencoba untuk melalui. Rama pun mampu memasuki Masjidil Aqsa, dan menuju shaf depan. Dia melaksanakan shalat tahiyatul masjid sesudah itu membaca Al-Quran. Di tengah tilawahnya membaca surat An-Nisaa dia berhenti lantaran dia membaca ayat yang membuatnya tertegun.

“Tidakkah sama antara orang yang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai udzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing , Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar”.7

Rama tak mengedipkan mata saat membaca ayat itu, ia terus terpana dan tetap menatapnya. Ayat ini menambahkan keyakinanku, akan kasih sayangmu ya Allah, kata Rama terbersit di hatinya.

***

29 Ramadhan 2003 Malam Berbintang Gemilang

Takbiran berkumandang di seluruh penjuru kota, meskipun suasana tak berubah. Masih saja dalam keadaan mencekam bagi semua. Terkecuali Rama, dia tak gentar sama sekali meski israel di hadapannya. Malam takbiran ini dia ingin berada di masjidil Aqsa, malam ini dia ingin berada masjid suci yang ketiga, tetapi dia terlambat, tentara Israel telah menutup, pendaftaran orang yang akan masuk kedalam masjidil haram.

Ternyata bukan hanya dia yang terlambat, ada ratusan orang yang menginginkan masuk masjidil Aqsa, akan tetapi dilarang. Maka mereka termasuk Rama, mencoba memaksa masuk. Suara takbir terkumandang begitu menggelegar dari para pemaksa itu.

“Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaaha illahu Akbar,Allahu Akbar Walillahil lhamdu”.

Akhirnya, tentara israel pun tak sabar. Timah panas tak berarah beraturan terlempar kesegala arah. Maka siapa yang di hadapannya akan tertusuk olehnya. Banyak diantara mereka mati tak terselamatkan, salah satunya nyawa Rama pun melayang. Tubuhnya jatuh tergegang, peluru tepat menusuk dahinya. Di sisa akhir nafasnya, syahadat terucap lembut. Izrail membawa nyawanya, saat itu dia telah mencium mewangi lakaran surga kasturi adanya.

Tenang Najah dan Samah kematian kalian takkan sia-sia. Doa kami selalu menyertai kalain.

Keterangan:
1.Ayolah sudah Rama, saya pikir dia bisa menjaga dirinya sendiri.

2.Tetapi, Samah, saya takut Najah...

3.Baik, Samah/ya, Samah.

4.Ayo, bunuhlah aku!!

5.Aduh, Rama gimana kabarmu, wahai saudaraku?

6.Jamak dari ukhtun berarti perempuan.

7.Surat An-Nisaa ayat 95

Perkawinan Surga di Simpang Gaza

Posted by Fursan Allail On 19:50 | No comments

Penulis: Guntur Alam

Jamal Ad-durra masih meringkuk di belakang sebuah tong sampah. Tangan kanannya berusaha memeluk rapat tubuh putranya, Muhammad. Sejak serangan darat Israel yang dilancar tadi malam, tentara Israel tak henti menghujani Jalur Gaza dengan peluru. Jamal sadar, ada gigil yang bercumbu di tubuh mungil putranya. Bocah 12 tahun itu berusaha sekuat mungkin mengumpulkan keberanian dalam dirinya.

“Jangan khawatir, Mujahid. Allah akan melindungi kita,” hibur Jamal. Memompa keberanian putranya dengan setangkai senyum semanis kurma. Mata bocah lelaki itu mengerjap. Memberikan binar, seakan berkata: Aku tak takut, Ayah!

Seonggok batu menjadi saksi adegan anak beranak itu. Tadi, batu-batu itu berterbangan di udara, menjadi azam dari tangan keduanya. Menghancurkan musuh Allah. Tapi, apa daya? Batu-batu itu tak mampu merobohkan tentara Israel yang bersenjata peluru panas. Bahkan sebuah peluru telah merobek perut putranya.

Bola mata Jamal melihat rembesean darah yang makin banyak di baju putranya, baju kaos belang-belang warna hitam putih itu terlihat memerah. Bahkan warna merah darah itu telah ikut menoktahi baju kaos putih Jamal. Bibir bocah lelaki itu terlihat pasi. Tapi, tetap saja ia berusaha menyunggingkan senyum termanisnya.

Retina Jamal memanas, ia tahu. Ada perih yang sedang mengigit-gigit perut putranya. Tapi, ia tak tahu harus berbuat apa. Tak ada celah untuk keluar dari balik tong sampah ini. Tentara Israel itu masih saja menghujani mereka dengan peluru. Dan Jamal tak ingin membiarkan tubuh putranya bermandikan hujan peluru. Ia bertahan, berharap ambulance segera datang.

“Allah bersama kita, Mujahid,” bisik Jamal, lirih di telinga putranya. Bocah itu mengangkat wajahnya. Bibir itu semakin pias, ia meringis.

“Apakah luka ini sebagai tanda aku sudah mendapatkan tiketku, Ayah?” tanyanya, tiba-tiba. Mata Jamal perih. Ia mengangguk. Sekuat mungkin untuk menahan tangis. Tak perlu air mata untuk sebuah kehilangan. Sebab, setiap anak-anak yang dilahirkan di bumi Palestina tidak pernah diajari untuk menangis. Melempar batu dan memanggul senjata adalah pelajaran pertama setelah mengenal kejamnya tentara Israel. Senyum pucat tersungging di bibir bocah itu.

Ah, kau seharusnya masih bermain seperti anak-anak yang lain. Masih bersemangat menuju sekolah. Bukan meringkuk di sini. Jamal buru-buru membuang pikiran itu. Adalah sebuah kebanggaan baginya, bagi putranya, dan bagi seluruh anak-anak yang lahir di negeri para nabi ini, lahir dan besar di negeri yang berhamburan tiket surga. Negeri yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Negeri yang telah menjadi ibu atas lahirnya para nabi. Negeri yang tak henti melahirkan orang-orang agung.

“Aku ingin tiket perak yang dikirim dari moncong tentara Israel ini benar-benar mengantarkan menuju perkawinan surga, Ayah,” Jamal mendesah mendengarnya. Dimensi yang bergelut dalam perang telah memaksa putranya untuk lebih cepat dewasa. hingga perkawinan surga sudah menjadi mimpi terindah bocah seusianya.

“Insya Allah, Mujahid,” doanya dalam gamang. Pupilnya memerah melihat air anyir itu terus menerus merembes. Padahal, tadi dia sudah mengikatkan kafiyenya di perut mungil itu, berharap aliran itu berhenti.

“Tapi, ayah berdoa. Semoga pagi ini bukan ijab qabulmu, Nak,” terdengar suara Jamal bergetar. Retina coklat putranya mengerucut, tak mengerti. Mengapa ayahnya tak mengizinkan perkawinannya dengan surga hari ini? Padahal, dia sudah merasakan kedatangan penghulu maut diantara riuh suara tembakan dan roket-roket Israel yang terus ditembakkan. Menghantam setiap benda yang ada di tanah Gaza.

“Mengapa, Ayah?” desisnya, begitu bibir ayahnya tak jua terbuka kembali. Jamal menghela napas, dalam. Mencoba berlomba dengan bau mesiu yang bertahta dalam paru-parunya. Ia melukis senyum terindah sebelum berucap.

“Karena Ayah ingin kamu menikah dulu dengan bidadari dunia dan kalian melahirkan jundi-jundi Allah yang banyak. Hingga, ada penerus perjuangan kita. Kalau kamu menikah dengan surga sekarang? Siapa yang akan melanjutkan perjuangan ini?” bocah itu terdiam. Ia merasakan, apa yang ayahnya katakan benar. Siapa yang akan menerima estafet tongkat perjuangan ini jika dalam umur semuda dirinya, semua anak-anak Palestina telah menikah dengan surga?

Ah, Allah pasti telah menyiapkan pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dari yang dipunya Palestina sekarang. Jika takdir menginginkan aku menikah dengan surga hari ini, aku akan menikah. Kalau tidak, pasti tidak. Karena Allah yang memiliki perjanjian. Batinnya. Membuang bimbang dan galau.

“Allah telah menyiapkan pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dari sekarang, Ayah. Kita tidak usaha khawatir, bumi Palestin adalah ibu yang subur, yang siap melahirkan puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan bayi-bayi,” yakinnya membuat Jamal terhenyak. Perang ternyata memang mengajari banyak hal. Perang telah memaksa putranya untuk mematangkan lebih cepat hormon-hormonnya.

Jamal tersenyum mendengar kata-kata itu. Dulu, dia begitu kebingungan untuk memilah kata saat putranya itu bertanya. Mengapa Israel ingin membunuh kita? Benarkah mereka penjajah yang mencaplok tanah air kita? Ia bingung, takut kata-katanya begitu sulit dipahami oleh anak seumurannya. Ternyata, Tanah Gaza telah membuat otak anak-anaknya untuk lebih pandai memahami semuanya. Termasuk kata-kata.

“Mereka memang penjajah yang mencaplok tanah air kita, sebab mereka bilang: Ini tanah Tuhan yang diwariskan kepada anak Israel, Tuhan telah mewariskannya kepada Musa di Gurun Sinai. Dan kita orang-orang yang merampas tanah warisan itu,” masih teringang kata-kata itu di telinga Jamal, kata-katanya sendiri. Ketika putranya, Muhammad, yang berumur tujuh tahun menanyakan sebab muasabab orang-orang Jewish itu begitu bernafsu membantai mereka.

“Kau tahu dari siapa namamu diambil, Mujahid?” bola mata bocah berumur tujuh tahun itu mengerjap, penuh binar dan luapan semangat.

“Dari nama kekasih Allah, Muhammad. Manusia yang telah membawa kita menuju cahaya surga. Muhammad Rasul mulia,” jelasnya meluap-luap. Tawa Jamal berderai menyaksikan letupan semangat itu. Itulah ciri anak yang dilahirkan tanah ini!

“Ayah ingin kamu bisa seperti Rasulullah, memberi kedamaian dan cahaya terang di sekelilingimu. Ayah ingin kamu menjadi penerang tanah Palestina, orang yang mampu menyibak awan tebal dari debu gurun-gurun yang diterbangkan senjata-senjata Israel. Bebaskan tanah air kita, Mujahid. Bebaskan Palestin!” kobar Jamal pada dada mungil putranya. Bocah itu mengangguk keras, penuh keyakinan.

“Perang ini bukan hanya sebatas perebutan sepetak tanah,” Jamal ingat sekali, penjelasan itu ia ucapkan dua tahun yang lalu, setelah putranya itu telah puluhan kali mengkhatamkan Al Quran-nya dan bocah itu bertanya tentang sejarah kecurangan, kebencian, dan kekejaman orang-orang Jewish yang diceritakan Al Quran.

“Mereka tak sudi mengakui Rasulullah sebagai rasul terakhir yang Allah kirim, sebab Rasulullah bukan dari bangsa Yahudi tetapi bangsa Arab, bangsa primitif dan barbar kata mereka,” putranya menyimak dengan santun ceritanya, “Padahal, sudah jelas dalam kitab terdahulu, Allah telah menjelaskan kalau kekasih terakhir-Nya bukan dari bangsa Yahudi seperti sebelumnya. Allah tak ingin membiarkan mereka mencelakai kekasih terakhir-Nya seperti yang telah mereka lakukan pada nabi-nabi terdahulu. Bangsa Jewish telah berkali-kali membunuh nabi,” raut muka bocah itu mengelam. Mengutuk perbuatan keji bangsa Yahudi.

Kini, tubuh mungil putranya itu diam pasi. Bersimbah darah dari sebuah peluru perak yang dikirim dari moncong senjata Yahudi. Mengapa tiket perkawinan itu harus dihujamkan ke jantung kecil putranya? Padahal, dia yang berharap dan memimpi-mimpikan tiket itu bersarang di dadanya. Memenuhi undangan dan janji Allah, menemui seorang bidadari dunia yang telah mewariskannya seorang jundi perkasa padanya.

Bidadari itu tentu telah merindukan juga dirinya, setelah tak sempat menitip kata saat mewariskan jundi mereka. Dokter di rumah sakit Gaza tak mampu menolongnya. Keterbatasan obat dan tenaga membuat lelaki itu harus merelakan kepergiannya. Sayang, bidadari itu tak sempat menatap elok paras jundi mereka.

“Jangan khawatir, Mujahid. Ambulance pasti akan datang,” hibur Jamal. Suara rentetan peluru dan roket-roket yang ditembakkan masih ingar di kaki langit Gaza. Pekik takbir dan anyir darah berbaur, mengisi udara bergumul melawan bau mesiu yang makin menyengat.

Dan, doa Jamal diaminkan langit. Sebuah mobil ambulance terlihat menepi ke arah mereka. Raungan sirine itu seakan doa-doa dari penghuni langit atas keselamatan putranya. Pintu belakang mobil terbuka, dua orang laki-laki berseragam mengeluarkan tandu. Ada tanda bulan sabit merah di dada mereka. Jamal serta merta bangkit dan menggendong putranya, menghambur menuju ambulance. Tapi…

“Aakkhh..!” Jamal menjerit tertahan, sesuatu yang panas tiba-tiba saja memutuskan langkahnya. Dia terjatuh, sebelum dia sadar dengan apa yang terjadi, beberapa suara tembakan yang begitu nyaring merobohkan dua orang laki-laki yang memegang tandu dari ambulance. Mereka melenguh dan tersungkur. Sebuah ledakan keras menghancurkan mobil ambulance itu. Jamal nanar melihatnya.

Jamal bangkit dan kembali merengkuh putranya ke balik tong sampah persembunyian mereka. Nyata sekali di pupil Jamal, dayang-dayang surga hilir mudik di langit Gaza. Menyiapkan perjamuan akbar bagi para pengantin surga. Pun retinanya menangkap jelas, penghulu maut tengah bersimpuh di dada kecil putranya. Daun telinganya bergetar, perih, cemburu, marah, berbaur. Ketika lamat dia mendengar ijab kabul yang dilafazkan putranya. Dua tetes permata yang mengalir pelan dari kelopak matanya menjadi saksi yang mengesahkan perkawinan itu.

Riuh suara bidadari di kaki langit yang menyambut para pengantin. Semanis madu senyum membasahi bibir mungil Muhammad. Wajah diam itu membuat Jamal cemburu.

“Aku telah mendapatkan janji Allah, Ayah,” seakan wajah manis itu mengatakan untai kalimat pencemburu itu. Jamal kini paham betul bagaimana perasaan yang pernah mengigit ulu hati seorang sahabat, Khaitsamah, ketika harus merelakan keperangkatan putranya, Saad, menjadi pengantin surga pada Perang Badr.

Jamal meraung, merobek tenda resepsi yang terbentang membiru, memayungi tanah Gaza. Terbentang sepanjang jengkal bumi Palestina.

“Aku ingin jadi pengantin!” pintanya pada penghulu maut yang masih sibuk mengucapkan ijab qabul di persimpangan Gaza – Khan Yunis. Dayang-dayang surga terdiam, hati mereka membuncah ingin memeluk ruh Jamal di atas dipan-dipan bertelekan permata. Ingar suara amin mereka di langit Palestina, atas doa Jamal.

/C59. 10/01/09
Terinspirasi dari drama maut Jamal Ad-Durra dan putranya Muhammad Ad-Durra yang tewas ditembak tentara Israel di belakang tong sampah, persimpangan Gaza – Khan Yunis. Drama itu diabadikan seorang awak TV Prancis, September 2000.